Pindah Alamat

Fery79.wordpress.com  telah di rubah menjadi fery79.com

Malam Nisfu

Sedikit rekaman camera saku diantara indahnya hamparan sajadah di malam nisfu sa’ban.

DSC00153

DSC00150 DSC00151

Diantara bait do’a yang diminta, … Yaa Allah yaa tuhanku.. berilah kami umur yang panjang agar kami dapat melaksanakan ibadah kepadaMu…. dan menjauhi laranganMu..dan apabila Engkau matikan kami… maka matikan kami dalam beribadah kepadaMu, Yaa Allah Yaa Rabbi.. pertemukanlah kami lagi dengan Malam Nisfu Sa’ban berikutnya dan berilah kami kesehatan agar dapat melaksanakan ibadah kepadaMu..

Tempat Hiburan Malam

Malam itu sehabis menyantap makan malam, persiapan memenuhi janji, segera dilaksanakan. Secepatnya berganti pakaian dan dalam hitungan menit sudah siap duduk manis diatas kendaraan roda dua yang akan mengantar kami ke tempat hiburan malam (dibawah 17 thn boleh baca).

Tempat hiburan malam disini bukan diartikan dengan seluas-luasnya, hanya merupakan tempat hiburan bagi keluarga yang memiliki anak, maupun juga yang belum berkeluarga. Karena pada saat dilokasi juga terdapat beberapa pasangan anak ABG, baik yang sekedar jalan berdua sambil menyaksikan, atau ikut serta dalam permainan.

Memang hiburan seperti ini masih memiliki pasar tersendiri,  terbukti masih bisa bertahan hidup diantara maraknya hiburan yang lebih canggih yang berteknologi tinggi. Sementara hiburan ini masih bertenaga GENSET, dan bahkan ada salah satu permainannya yang masih menggunakan tenaga manusia.

Semoga permainan ini tetap terus eksis diantara permainan yang lebih canggih.

DSC00141 DSC00144

DSC00142

Bukan Tulisan Penting

Sekedar mengisi kertas kosong, iseng ku coret dengan tulisan tak keruan. Atau sekedar gerak tangan tak beraturan, karena pembawaan hati yang lagi tidak nyaman.

Sungguh …. Hari ini sangat tidak menyenangkan bagiku. Suara diujung telp sana seakan menghakimiku. Dan suatu hal yang sangat tidak kusuka, bila aku diposisikan pada tempat keharusan menerima pernyataan yang dia buat, dan meminta aku untuk membenarkan serta menerima pernyataannya, yang jelas-jelas tidak sesuai kenyataan dan berlawanan dengan hati nuraniku. Egois namanya, kalau pernyataannya benar (sesuai dengan kenyataan) sementara aku berusaha keras mau benar sendiri.

Sebagai penutup Bukan Tulisan Penting ini, ku kutip suatu kalimat dari postingan di salah satu blog, yang kalau tidak salah berbunyi :

wise-words-quote-pjlighthouse-12 Dan bila tidak salah pengertiannya : ” Jika kita suka menghakimi orang-orang, tidak akan ada waktu tersisa untuk mencintai mereka” (Mother Theresa).

Pesan Moral dari Monyet untuk Kita

stupidMonkey

Teman, saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya sederhana saja.

Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa ? Tentu kita sudah tahu jawabnya. Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !

Teman, kita mungkin akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita sering mengenggam erat-erat setiap pikiran yang mengganjal hati kita layaknya monyet menggenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit pikiran dan hati yang akut.

Teman, sebenarya monyet-monyet itu bisa bebas dan selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan terbebas dari pikiran yang mengganjal dan penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepaskan semua pikiran yang mengganjal dan “rasa tidak enak” terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum…. Jadi, kenapa kita tetap menggenggam pikiran yang mengganjal dan juga perasan tidak enak itu ? – (NN)

source : iwandahnial

Kisah Bahasa Banjar

images

Ayam Bahira

Harian itu Amang Maran sibuk banar betutukar paring. Kada alang-alang ma-nalu bica sidin maangkut paring.

Imbah tuntung manurunakan paring matan di bica, duduk ai sidin dipalataran, sambil mahirup banyu teh. Kaya jagung ganalnya paluh sidin, napa mun saurangan haja manggawinya.

Kada lawas datang minantu sidin nang bangaran Itab. Malihat mintuha duduk ka-uyuhan, ba-ucap ai si Itab merawa sidin.

“Banyaknya pang bah pian manukar paring, gasan apa?” ujar Itab.
“Tanang haja ikam Tab’ai, aku handak ba-ulah kurungan hayam” ujar Amang Maran.
“Tapi… napa banyak banar bah?” ujar Itab
“Rencanaku, barumahan ini handak kupagar sakulilingan, jadi kurungan hayam, nyaman hayamnya kada kaluar lagi, apa mauk banar hayamnya bahira kesana kemari” ujar Amang Maran menjelasakan wan Itab.

“Tapi bah ai,… biar pian kandang rapat barumahan ini, tatap ai bila hayamnya bahira keluar” ujar Itab.

“Kada mungkin”, ujar Amang Maran mangarasi. “Pagarnya ku-ulah rapat-rapat”, jar Amang Maran lagi.

“Mun hayam bahira kada kaluar, kaya apa’am bah?” ujar Itab.

Mendengar penjelasan Itab kaya itu, ma-hancap diambil sidin sandal gapit, lalu malipak ditawak’kan sidin kana balukuk Itab.

“Dasar minantu kurang ajar”, jar Amang Maran sing sarikan.


*Tjeritera Tentang ‘T’*

tempebacembesarTakkala Temperatur Terik Terbakar Terus, Tukang
Tempe Tetap Tabah,
“Tempe-tempe” , Teriaknya. Ternyata Teriakan Tukang
Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu, Terpaksa Teriakannya Tambah
Tinggi, “Tahu…Tahu. ..Tahu… !”

“Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya
Terkenal!!”, Timpal
Tukang Tempe. Tukang Tahu Tidak Terima,”Tempenya
Tengik, Tempenya
Tawar, Tempenya Terjelek…. !”

Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, “Teplakkk… !”
Tamparannya Tepat
Terkena Tukang Tahu. Tapi Tukang Tahu Tidak
Terkalahkan,
Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang
Tempe.

Tukang Tempe Terjengkang Tumbang! Tapi Terus
Tegak, Tatapannya
Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu. Tetapi,
Tukang Tahu Tidak
Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut,
“Tidak Takut!!!”
Tantang Tukang Tahu.

Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal,
Tinjunya Terarah, Terus

Tonjokkannya Tepat Terkena Tukang Tahu, Tak
Terelakkan!
Tujuh
Tempat Terkena Tinjunya, Tonjokan Terakhir Tepat
Terkena Telak.

Tukang Tahu Terjerembab. “Tolong… Tolong…
Tolong…!”, Teriaknya
Terdengar Tinggi. Tetapi Tanpa Tunda Tempo, Tukang
Tempe Teruskan
Teriakannya, “Tempe.!!.. Tempe.!!… Tempe .!!..!!!!!”

TAMAT